Kalbarku, ku menangis

Entah kenapa, sepertinya baru malam ini saya begitu peduli dengan eksistensi pejabat teras kota Pontianak tercinta. Saya menangis, mengetahui hasil perhitungan suara tentang siapa yang akan menjadi pemimpin provinsi Kalimantan Barat berikutnya. Yeah, memang benar air mata tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi saya sedikit lega mengeluarkan tangisan itu malam ini. Helaan nafas saya seakan baru saja melepaskan sebuah jahitan terik sesakkan dada. Saya benci, sungguh tak ikhlas dunia akhirat jika harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang sangat jauh dari karakter pemimpin yang disyari’atkan dalam Islam. Bagaimana mungkin ulil amri saya nanti tidak akan melakukan shalat 5 waktu?

Tapi dunia belum akan berakhir. Memang saat ini, telah diyakini bahwa umat Islam sedang berada dalam masa kepemimpinan para dajjal. Namun saya yakin, inilah rekayasa Allah SWT. Pasti akan ada begitu banyak hikmah di dalamnya. Dan lagi, masih ada kesempatan untuk tidak dipimpin seorang ulil amri yang menganut keyakinan dalam ketidakmayoritasan publik. Jikapun kesempatan itu hilang *na’udzubillah, ya Allah… cobaan yang luar biasa bagi masyarakat Kalbar* maka hal baik dan hal buruk tentu saja sudah ditakdirkan sebagai bagian dari kehidupan.

Yeah, bagaimanapun juga, tangisan malam ini pun mengantarkan saya pada sebuah tangisan lain yang jauh dari dunia politik. Ada tangis bahagia dan khawatir juga malam ini…

5 thoughts on “Kalbarku, ku menangis

  1. fly the air says:

    calonnya ada 4:

    1. Usman Ja’far – LH Kadir

    2. Oesman Sapta – Lyong

    3. Akil Mokhtar – A.R Mecer

    4. Cornelis – (lupa namanya)

    saya mengkhawatirkan kalbar berada di tangan yang tidak tepat.

  2. cepot says:

    Saya yang awam politik mau ikutan menyuarakan pendapat. Dalam koridor pemerintahan Kalbar, sebaiknya memang Pemimpin harus adil, dan membangun Kalimantan Barat tanpa kecuali.
    Kekuatiran semacam itu yang dirasakan Dinie Hazel nda perlu ada sejauh masih ada pemimpin di atasnya yang baik dan sesuai dengan akidah agama Islam. Ini kalaw memakai isu agama dalam prespektif kekinian.

  3. Anonymous says:

    Intinya kita harus siap berbeda mbak. Ketika kita melihat orang lain dari sudut pandang kita jelas tak nyambung too.

    pemimpin pemerintahan jelas bukan pemimpin agama…apakah pemimpin selama ini sudah jauh lebih baik?

    sudahkah pemimpin sebelumnya sesuai denga harapan kita. tidak korupsi misalnya? atau menajalankan tugas dan kewajibannya ssuai dengan ajaran agamanya?

    akibat kita berpikir terlalu piciklah maka dunia ini menjadi temoat yang tak enak untuk ditinggali.

    jadi benarlah apa yang dikatakan karl max, agama adalah candu bagi manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s