Musuhku, Je t’aime

Wah, sudah begitu lama tidak memanjakan diri dan mengembangkan logika saya nih. Bukannya sok sibuk atau terlena menanti maret sih. Tapi lebih pada time management yang kayaknya agak sedikit berbeda dari biasanya. Sekarang, welcome back idea. Welcome my true inspiration.

Pagi yang sungguh menyenangkan. Entah kapan terakhir kalinya saya bergembira ria di pagi hari seperti hari ini. Saya ingat, salah seorang penyiar di radio tempat saya siaran pernah berkata: ”Mulailah pagi anda dengan sesuatu yang dapat menyenangkan hati anda. Anda bisa dengarkan lagu favorit untuk membangkitkan kembali semangat anda, atau lakukanlah hal yang menurut anda bisa membuat anda tersenyum seharian ini!”.

Pagiku tersenyum dari deringan handphone🙂 Deringnya saja sudah menyenangkan. Tapi sungguh, saya benar-benar tidak bisa biarkan deringnya terlalu lama. Harus segera diangkat! Ternyata, jadi lebih menyenangkan setelah handphone saya tidak berdering lagi. Benar-benar amazing morning full of smiling🙂 Pagi yang menyemangatkan saya untuk selesaikan urusan duniawi buat hari ini. Sebuah pagi yang juga mengantarkan saya untuk mencintai seorang musuh. APA? MENCINTAI MUSUH? Apalagi ini?

Sangat menarik. Banyak orang yang *sangat saya yakini* tidak ingin memiliki seorang musuh pun di dunia ini. Garis bawahi kata seorang. Count out setan-setan yang memang sejak lahir sudah jadi musuh kita. Nah, secara manusiawi, tentu saja manusia tidak mau bermusuhan atau mencari-cari musuh ya? Tapi, rupanya pagi yang cerah ini telah mengantarkan saya pada satu statement yang bagi saya sangat menarik:

Musuhku, Je t’aime.

Ya, saya mencintai musuh saya. Dia seorang musuh yang saya yakini, pun mencintai saya juga. Dia musuh yang menyenangkan. Seorang musuh yang barangkali tidak begitu sadar bahwa di luar koridor hubungan profesional yang harus dinanti usai hingga maret itu, sudah menjatuhkan dirinya ke dalam sebuah cinta yang sama sekali tak pernah dibayangkan, tak pernah diimpikan, tak pernah diprediksikan.

Musuhku, jangan berhenti memusuhiku di dalam batas hubungan profesional ini. Musuhku, saya sayang kamu.

Siapa lagi yang mau jadi musuh saya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s