Tolong Bina, bukan Binasakan

Well, Alhamdulillah malam ini saya dan teman-teman menikmati akhir pekan menyenangkan di tepi sungai dalam keremangan indah namun silau. Hehe, silau? Maksudnyaaaa… yeah silau oleh blitz kamera digital salah seorang teman yang narsis *walaupun sebenarnya kami semua narsis sih*. Ber-7 malam ini, sepertinya lumayan menarik perhatian khalayak juga karena kami satu-satunya rombongan wanita berjilbab yang nongkrong di kafe. Apalagi, jilbab saya dan teman-teman bukan jilbab gaul, melainkan jilbab yang ditutupkan sampai ke dada.

Apakah terlihat aneh ya ketika para akhwat bercengkerama di kafe begitu? Setau saya sih, berikhtilat dalam Islam memang tidak boleh, dilarang. Namun, lokasi duduk saya dan teman-teman malam ini sepertinya tidak mengindikasikan ikhtilat apalagi khalwat. Anyway, saya yakin bahwa semuanya tergantung niat. Saya dan teman-teman tidak menjadikan kafe tadi sebagai tempat maksiat. Alhamdulillah pula, tidak ada maksiat yang bisa kami saksikan malam ini. Hmmm, barangkali peluang bagus juga ya untuk saya dan rekan-rekan Gaby, berpikir tentang berbisnis kafe, khusus akhwat yang ceria dan butuh refresing pula hehe.

Stress saya lepas. Debar saya karena menjadi ketua panitia sebuah event bernama English Pintar pelan-pelan turun seiring tawa yang muncul bersama teman-teman yang sungguh kompak ’menggila’. Menjadi ketua panita, sebuah event yang sangat ingin saya saksikan eksistensinya, sebuah tantangan untuk saya, namun juga suatu tanggung jawab yang bisa mendebarkan jantung saya. Apalagi, ditambah dengan beberapa bibir manis yang saya tak tau apa tujuannya. Ikut campur, peduli, memojokkan, atau ingin memprovokasi, entahlah. Barangkali mereka peduli, namun cara yang muncul ke permukaan memunculkan argumen seakan mereka ingin menyulut api emosi. Nah, nambah lagi kan tantangan dan cobaan saya. Masya Allah.

Terima kasih wahai bibir-bibir manis. Ucapan dari bibir tersebutlah yang akan menjadi noda dalam kepanitiaan saya dan teman-teman setia saya. Ga ada noda ya ga belajar. Terima kasih. Berkat noda dari kalian, wahai pemilik bibir manis, maka saya dan teman-teman mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Kapan ujiannya? Jadi, kalau bisa jangan terus menerus menabur noda ya. Sekali-sekali, dukung kami dengan membeli pemutih atau detergen sehingga keberadaan bibir manis itu tidak sekedar meninggalkan noda, tapi bisa benar-benar menjadi PENASEHAT YANG MEMBINA, bukan penasehat yang MEMBINASAKAN.

2 thoughts on “Tolong Bina, bukan Binasakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s