Koperasi atau Organisasi?

Berorganisasi di kampus memang begitu menyenangkan. Mahasiswa yang tidak berorganisasi atau sekedar kuliah saja dianggap tidak memanfaatkan ’masa emas’ mereka. Setuju, saya sangat setuju. Saya sendiri berorganisasi dengan sangat bahagia di kampus tercinta. Organisasi membuka jalan pikiran kita. Organisasi membimbing mahasiswa menjadi lebih kritis di kelas, namun tetap beretika. Organisasi menjadi jalan tempat mahasiswa beraspirasi saat ada hal-hal janggal terjadi di kampus. Nyaris, organisasi menjembatani segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan ’dunia atas’ (baca: jurusan, fakultas, maupun universitas). Bahkan, organisasi pula lah yang menjadi media awal diletakkannya aspirasi rakyat kecil menjadi sebuah konsiderasi yang layak dipertimbangkan.


Di dalam sebuah organisasi, sejauh yang saya jalani, saya mengenal apa yang disebut sebagai Ketua atau Direktur, Sekretaris, Bendahara, beberapa Manager Divisi dan staff divisi tersebut. Di organisasi yang lebih tinggi lagi, seperti BEM, saya mengenal Presiden, Wakil Presiden, Sekretaris Kabinet, dan jabatan-jabatan lain yang tak berani saya sebutkan di sini.


Saya yakin bahwa semua organisasi kampus di seluruh Indonesia, bahkan seluruh dunia, pasti memiliki visi dan misi. Organisasi yang baik, menurut senior saya ketika upgrading pengurus organisasi himpunan kampus, harus memiliki tujuan yang jelas. Harus ada visi dan misi yang satu. Visi dan misi yang menyatukan persepsi dari kepala-kepala berbeda. Visi dan misi yang dapat mengembangkan organisasi kampus, bukan menumbangkan!


Sayang sekali, tragis barangkali ketika menemukan sebuah organisasi malah hampir tumbang akibat terlalu mengedepankan ’prinsip kekeluargaan’ di dalamnya. Kata ’kekeluargaan’ mengingatkan saya pada pelajaran kelas 2 SMP, tentang Koperasi. Koperasi artinya terbukanya akses dan kesempatan anggotanya untuk meminjam uang dengan jumlah tertentu, dengan aturan yang jelas, dengan deadline yang dapat dipertanggung jawabkan. Itu KOPERASI. Namun jika organisasi? Apakah ’kekeluargaan’ yang diusung mewakili hati beberapa anggota untuk meng’koperasi’kannya?


Sangat bagus sekali jika kalimat ’dengan aturan yang jelas’ dan ’dengan deadline yang dapat dipertanggung jawabkan’ versi Koperasi bisa dipatuhi. Yeah, harapan tinggallah harapan ya barangkali? Benar-benar hanya harapan. Tema kekeluargaan yang bisa dikedepankan sebagai ’dalil’ untuk memunculkan sense of belonging antar anggota malah dijadikan ’dalih’ untuk hal lainnya. Saya sungguh bingung! Dan tentu saja sedih.

Kekeluargaan dalam berorganisasi itu perlu. Bahkan, seperti yang saya singgung, tema kekeluargaan bisa memicu munculnya sense of belonging bagi pengurus organisasi. Bayangkanlah sebuah organisasi yang sudah seperti keluarga sendiri. Hangat dan aman di dalamnya. Menyenangkan dan tidak ingin keluar darinya. Namun, kekeluargaan yang setengah-setengah dan sekedar menaruh idealisme untuk kepentingan sendiri rasanya tidak pantas ditempatkan di organisasi yang ingin dimajukan *katanya*. Haruslah benar-benar kekeluargaan yang fair untuk diimplementasikan dalam organisasi. Bukan kekeluargaan dalam moment tertentu saja. Omong kosong!


Saya berharap penuh untuk putusnya mata rantai otorisasi dari pihak yang tak bisa menyatu secara hati dan aspirasi. Carilah titik tengahnya. Berikan kesempatan untuk bersama menyampaikan apa yang ingin dicapai. Dengan hati yang lapang, bukan dengan emosi.

2 thoughts on “Koperasi atau Organisasi?

  1. kalau kita berbicara mengenai prinsip itu bisa juga berarti berbicara tentang azas organisasi, yang sejauh saya tahu dibagi menjadi 2 yaitu organisasi laba dan organisasi nirlaba,, organisasi laba dalah yang mencari profit sedangkan organisasi nirlaba adalah organisasi sosial jika organisasi soalial memang kebanyakan menganut azas kekeluargaan namun jika organisasi yang mencari laba menganut azas kekeluargaan apakah bisa berjalan? kita tidak membicarakan KOPERASI disini, namun banyak perusahaan yang menganut azas tersebut. sejauh yang saya tahu dan pendapat saya,
    sebuah organisasi itu memerlukan yang namanya system atau bahasa kerennya SOP (Standard Opertional Procedure) yang harus dijalankan SOP pada dasarnya adalah untuk mempermudah, namun kesadaan orang untuk melihat itu menjadi mudah agak susah, karena ada semacam birokrasi, nah kaitanya dengan azas kekeluargaan adalah kita bisa menentukan kebijaksanaan yang mana yang akan diambil sehingga itu akan lebih mengembangkan sebah organisasi dari pada menghancurkan,
    saya setuu sekali kalau seorang mahasiswa yang tidak ikut dalam sebuah organisasi telah melupakan “masa emas nya” karena saya telah mengalaminya sendiri bahwa pengetahuan organisasi sangat bermanfaat bagi saya, buat teman2 yang ingin berdiskusi silahkan saja, ini merupakan sarana meningkatkan pola pikir kita ya kan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s