so small wolrd

Apa saya ini ditakdirkan untuk jalan sendirian ya kemana-mana? Sejak tamat SMA sekitar 2 tahun lalu, dan sahabat saya pergi meninggalkan saya ke Surabaya *tepatnya studi, bukan meninggalkan dini!*, saya merasa sepi dan sendiri. Iya, soalnya semasa SMA, setiap kali saya ingin jalan-jalan, ke mana saja bahkan sekedar jalan tanpa tujuan sekalipun, selalu ada orang yang saya hubungi untuk temani saya jalan-jalan.

Setahun sesudah masa SMA, sebenarnya *atau lebih tepat seharusnya* masih ada yang bisa temani saya, beberapa orang teman dan satu orang spesial *waktu itu, yang sekarang sama sekali tidak ada bekasnya* untuk temani saya jalan-jalan seperti tadi. Namun, dengan adanya ketidakpedulian dan kesibukan luar biasa pada mereka, maka waktu yang pas untuk hang out bersama pun sama sekali tidak bisa sering-sering direalisasikan.

Apalagi sekarang ini, dua tahun sesudah masa SMA, seiring dengan mengalirnya tumpukan kertas-kertas berisi jadwal aktivitas teman-teman, semakin merenggangkan hubungan intim yang hanya terjadi dalam ruang kuliah saja. Untunglah, saya sudah sedikit terbiasa dengan nikmatnya jalan-jalan ke Mal sendiri. Tidak ada shopping advisor untuk ingatkan saya yang seringkali kalap melihat coklat-coklat bertaburan di ujung mata. Siapa yang tahan melihat coklat putih yang cantik melambai-lambaikan tangannya ke arah saya?

Yeah, memang kadang lebih enak kalau jalan-jalan itu sendirian saja. Bebas mau melangkahkan kaki ke counter apa saja, tanpa takut ketinggalan temen atau kehilangan jejaknya. Ngga repot sms atau telpon untuk klarifikasi saya ada di sini atau dia ada di situ. Lebih bebas berekspresi. Hanya saja, saya jadi agak sedikit capek karena harus jinjit dan sedikit melompat untuk ngambil baju yang di gantung di tempat lumayan tinggi. Mau minta tolong sama pramuniaga, ga enak juga karena mereka sedang ngerumpi. Saya kan bukan tipikal orang yang suka merusak kesenangan orang lain.

Merusak kesenangan orang, artinya DENGKI. Itu tema yang dibahas saat saya siaran tadi. Narasumbernya tadi minta anterin pulang ke rumahnya. Subhanallah, dunia ini luas, tapi isinya saling berkaitan sehingga saya merasa ”WORLD is SO small, narrow”. Kisarannya hanya di situ-situ saja. Nah, jadi sesudah saya anterin pulang sampai ke rumah, ternyata rumah itu juga rumahnya teman SMP saya yang dulu pernah dekat. Ya ampun, si mbak narasumber ternyata kakaknya temen saya waktu SMP. Seorang teman SMP yang bahkan sampai hari ini saya masih bisa ingat tanggal ulang tahunnya dan nomor telepon rumahnya!

Dunia ini terkadang memang terasa itu-itu saja isinya. Entah isinya itu-itu saja atau saya yang cukup terkenal *halah, narsis atau kepedean nih?*, yang pasti ke mana pun saya injakkan kaki di bumi khatulistiwa tercinta, selalu saja ada teriakan panggilan nama, nostalgia, atau sekedar sapaan ’halo’ ’hai’ atau ’masih hidup ya kamu?’ dari beberapa orang yang saya kenal dan mengenal saya. Atau, ketika terjadi proses belajar mengajar di kelas dengan murid-murid tercinta, adaaaa aja kaitannya dengan cerita lama seperti kakaknyalah yang temen saya, muridnya bapak saya jugalah, atau bahkan adiknya mantan pacar saya! Deuh, dunia… dunia…

Jangan-jangan, pembaca blog saya ini juga ada yang masih keluarga ya sama saya? Hihi. Mungkinkah Mba Mitra a.k.a Mitora in Life ternyata adalah tante ipar saya? Atau Kak Diar a.k.a cocoa addict rupanya cucu dari adiknya sepupu kakek saya? Hmmm, barangkali mas Koz pernah menjadi salah satu keponakan kesayangan tetangganya paman saya? Apakah masuk akal jika ternyata pohon keluarga (family tree kan bahasa Inggrisnya?) di buat komplit, lalu saya menemukan nama-nama Hayazidie, Puspa Hanandhita, Jengkolholic, Sani, Kang Asep, Chalid, Ucup, dan nama lainnya *yang tak tertuliskan* di deretan family tree tersebut?

Kita semua adalah anak cucu adam. Maka, dengan bangga saya menjawab: Mungkin saja kakek anda, wahai pembaca, pernah berpacaran dengan keponakannya buyut saya!

4 thoughts on “so small wolrd

  1. mitora in life says:

    waduh, tante ipar??? tidaaaak !
    saya blom setua itu deeh…😛

    hmm, gpp. melakukan semua hal secara sendiri tuh ada dampak baiknya kok, jd lebih mandiri…🙂

  2. fly the air says:

    gyehehe, kan itu cuman permisalan tante, :p

    yea, tapi lama-lama, sendirian teyus kan cape. also need one to astonish me that i am priceless enough.

    wanna be one? or wanna find me one?

  3. cepot says:

    wah whaha iyua ya. Baru tau dah kite ini masih satu keluarga, masih satu pohon ya.
    Yg jelas sambung menyambung menjadi satu gitu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s