Lampu Padam

Saya harus segera, batere laptopnya sudah mau habis, tapi saya masih ingin menulis nih. Hmm, untung saja laptop tetap bisa beroperasi meskipun lampu mati, alias PLN menggilir kompleks perumahan saya untuk menikmati nikmatnya gelap di bawah terang setengah bulan malam Ramadhan ke 7 ini. Alhamdulillah.

Fenomena mati lampu, atau bahasa bakunya adalah pemadaman bergilir dari PLN yang beberapa tahun belakangan sering terjadi bisa menjadi salah satu momen berharga untuk saya (dan keluarga, seharusnya) sebagai media bersabar. Apalagi, bulan Ramadhan kali ini, sekarang ini, pemadaman bergilir tetap konsisten dilakukan oleh pihak PLN mengingat kapastias yang menurut mereka tidak memadai untuk menghidupkan seluruh aliran listrik di daerah Pontianak tercinta.

Sedih sih. Tapi sepertinya saya sudah terbiasa dengan kondisi gelap-gelapan dengan terang yang remang dari sebatang lilin. Malah jadi cantik kalau saya capture gambar lilinnya pakai camera phone punya adik saya *berhubung handphone saya yang berkamera sudah meninggal dunia, jadi sekarang hanya bisa pinjam*. Lagipula, hari ini saya cukup bahagia melewati hari yang menyenangkan ini, sehingga kalau saya ngomel-ngomel artinya saya merusak kebahagiaan berharga ini. Sudah lama tidak sebahagia ini. *belakangan ini saya sering menggunakan gaya bahasa hiperbola ya? Atau ironi? Yang jelas bukan personifikasi*.

Sebenarnya, jauh dari lubuk hati saya yang juga seorang manusia, sangat ada keinginan untuk teriak, protes, dan marah-marah ke pihak yang berwenang dan bertanggung jawab dengan masalah ini. Namun, rasanya percuma saja. Harian Pontianak Post sepertinya setiap hari sudah nyindir-nyindir nyinyir fenomena menahun mengenai pemadaman bergilir ini. Salah satu program harian di Volare FM, Lepas Landas juga rasanya tiap kali saya dengar, yang hangat dibahas adalah kebiasaan pemadaman bergilir *yang teratur dan seringkali tidak teratur* oleh PLN. Saya tidak cukup kompeten untuk mengomentari masalah itu di sini.

Anyway, walaupun tidak kompeten, bagaimanapun juga, kejadian sekedar shalat tarawih di rumah akibat lampu padam rasanya tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak sedikit berkomentar. Wah, ga jadi deh. Baterenya tinggal 38 persen. *Meskipun sebenarnya bisa sih kalau saya berkenan. Hanya saja, nanti seperti melihat semut di seberang saja*. Hmm, cukup melihat semut, malam ini perhatikan si gajah saja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s