Cerita Kucing

Tadi saya nonton satu program di Metro TV, kerja sama dengan dinas kesehatan. Pas pindah ke channel yang didominasi dengan berita itu, pas saya lihat seorang ibu yang baru saja melahirkan, bayinya diletakkan di atas dadanya, sampai akhirnya sang bayi berhasil ’menemukan’ haknya, ASI eksklusif. Saya jadi kepengen punya anak, soalnya bayi yang barusan saya lihat tadi lucu banget. Heuleuuh, dasar emosi ngga stabil. Baca novel kepengen jadi Rana. Nonton sinetron keinget kisah pribadi. Liat adegan sekilas gitu doank malah jadi pengen punya anak. Untunglah, Alhamdulillah saya masih bisa berpikir rasional sesudah menuliskan hal-hal yang barusan saya lihat. Menulis memang menyenangkan. Apalagi kalau tulisan dibaca orang dan dikasi komentar *ayo, yang udah baca tulisan ini dan ga kasi komen, artinya ga punya perasaan hehe*.

Barusan saya selesai sedikit beres-beres kamar. Ada banyak ketidakteraturan terjadi dalam kamar saya. Sudah seperti ladang kucing saja. Anaknya Eko 5 ekor sehat semua, alhamdulillah. Biasanya, kalau Potato melahirkan, mesti ada yang meninggal satu atau dua ekor. Kali ini, Eko yang notabene anaknya Potato, merasakan masa kehamilan dan ngidam aneh *suka snack manis waktu dia hamil*, kemudian melahirkan, waah anaknya lucu dan sehat semua. Sayang, mereka belum punya nama. Tolong dong, bantu kasi nama. Jangan lupa, masing-masing nama harus berfilosofi.

Bicara tentang nama-nama hewan, saya pernah membaca bahwa Rasulullah SAW juga menamai untanya. Dengan memberi nama pada binatang peliharaan, akan muncul rasa sayang dan rasa memiliki. Perihal nama menamai kucing *hewan peliharaan sebagian besar orang-orang cantik hehe*, saya sudah melakukannya sejak SMP. Saya masih ingat, kucing pertama yang mampir ke rumah saya dikasi nama Dudun. Waktu itu belum ada filosofi apa-apa. Yang menamai juga bukan saya, tapi salah satu keluarga yang kebetulan mampir ke rumah.

Ternyata Dudun adalah kucing yang cukup cantik, selain dia juga sangat pintar karena bisa buka kulkas sendiri. Beberapa kucing jantan naksir, dan dia dihamili sehingga lahirlah Misty, kucing jantan yang dikasi nama sama adik saya karena waktu itu dia lagi suka nonton kartun Pokemon. Konon, Misty adalah nama temannya pemilik Pokemon. Bagus juga, pikir saya waktu itu. Sekarang Misty sudah hilang entah kemana, sampai akhir hayat ibunya pun Misty tak kembali. Saya dan ibu saya nangis sesenggukan waktu melihat Dudun meregang nyawa. Bayangkan! Dudun wafat dihadapan saya dan orang serumah, hiks.

Sesudah Dudun dan Misty, kucing berikutnya yang mampir adalah Nudi. Nudi punya nama kepanjangan. Saya lupa apa nama lengkapnya. Adik saya yang kasih. Tapi Nudi terlalu nakal untuk bertahan lama di rumah kami. Anyway, dari benih yang dititipkan Nudi kepada entah kucing betina mana, lahirlah Potato yang sekarang sudah berkali-kali melahirkan. Potato saya namai karena waktu SMA dulu saya suka ngeliat iklan snack kentang Mr. Potato. Dari rahim Potato, lahirlah Dobby yang sejak awal tahun 2006 menghilang tanpa jejak. Fotonya masih ada di friendster saya kalo ga salah. Dobby, seekor kucing yang sadar kamera.

Meskipun Dobby sudah tidak ada lagi, Potato tetap bertahan di rumah kami. Potato cukup sopan dan tidak cerewet. Di kasi makan apa aja diem. Itu dulu. Sekarang dia sudah agak sedikit milih. Mungkin karena faktor usia. Kalo ga salah, Potato sudah 3 atau 4 kali melahirkan. Saya pernah melihat secara langsung proses kelahiran anak Potato. Saya masih ingat tanggalnya, 10 April 2005. Bertepatan dengan ulang tahun Bapak saya. Potato melahirkan jam 10 malam. Sesudah saya dan adik-adik nyanyi-nyanyi sambil potong kue ulang tahun untuk Bapak, saya kaget melihat Potato mengejan. Heuleuuuuh. Dia mau melahirkan. Saya bingung harus bagaimana. Jadi saya melihat saja. Dan memang, Potato ternyata tidak membutuhkan bantuan saya. Dia bisa melahirkan sendiri.

Luar biasa. Melahirkan 3 ekor anak. Saya belum berani menamai anak-anak Potato karena masih baru. Takut dikasi nama malah meninggal nantinya. Jadi, ketika sudah agak besar, ketika mereka sudah bisa melompat dan bermain-main, baru saya namai. Filosofi nama anak-anak Potato adalah dari bentuk ekor mereka. Eko, karena Ekornya bengkok. Bukan bawaan lahir, tapi karena kejepit pintu waktu adik saya mau tutup pintu. Lalu Ecil, karena ekornya kecil. Terakhir Epan, karena ekornya panjang. Epan sudah mati. Dia kena penyakit anoreksia kayaknya. Segala jenis makanan terenak untuk kucing sudah saya sodorkan, tapi Epan ga mau makan juga. Ya sudah. Mungkin sudah takdirnya dia mati dalam keadaan kurus begitu.

Sekarang, Eko sudah dewasa. Sudah bisa bikin anak. Yang menghamilinya saudara kandungnya sendiri, si Ecil. Tapi sebelum Eko melahirkan, Potato sempat 2 kali melahirkan. Ada 2 ekor anak, namanya Cicu dan Cuci. Filosofinya dari nama Cicu saja, kucing lucu. Sedangkan Cuci, kebalikannya Cicu. Tapi Cuci sudah mati. Lalu, sesudah Cicu dan Cuci, Potato melahirkan lagi. Ada 3 ekor anak. Saya belum sempat memberi mereka nama, tau-tau mereka *3 ekor kucing itu* sudah menghilang begitu saja. Potato sepertinya ga sayang sama mereka. Ga pernah dikasi ASI. Malah Cicu yang sudah gede disusuin terus sama Potato, bergantian menyusui anak-anaknya Eko yang 5 ekor itu. Nah, Eko sekarang anaknya yang 5 itu, disusui bergantian. Kadang Potato yang menyusui, kadang Eko-nya sendiri. Saya salut sama Potato, peduli cucu hehe.

Kalau Ecil sekarang sudah ga dekat lagi sama saya. Dia sering tidur di luar, di depan TV lantai bawah. Paling kalau saya sedang makan, baru dia nyamperin saya. Selain itu, Ecil seringkali diajakin berantem sama Nudi. Saya dan keluarga sebel sama Nudi. Suka mengganggu ketenangan rumah tangga kucing aja. Kasian Ecil, banyak luka-luka akibat diberantemin sama Nudi.

Demikianlah kisah kucing-kucing saya yang lucu-lucu. Saat ini, total jumlah kucing di rumah saya adalah 9 ekor. Mereka yaitu Potato, Eko, Ecil, Cicu, dan 5 ekor anak Eko yang sampai sekarang belum saya kasi nama. Sebagai informasi, warna bulu mereka lucu-lucu lho. 1 ekor berwarna kelabu, 1 ekor berwarna putih kuning, 3 ekor lainnya hitam keabuan. Semuanya lucu dan bandel. Setiap pagi garuk-garuk (baca: cakar) kaki saya. Nah, jika berkenan, tolong referensi beberapa nama untuk kucing saya yah. Thanks anyway.

Nb: untuk yang namanya mirip dengan nama kucing saya, mohon maaf sebesar-besarnya. Pemberian nama pada kucing saya murni karena suatu filosofi yang pas dengan keadaan yang sedang terjadi pada saat penamaan. Jika kurang berkenan, mohon diperkenankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s