Hard Consideration (Part II)

It’s been eleventh September 2007, 6 years after 09/11 tragedy which I have no deal with it at all. I just imagined how sad people were left by their family, in unintended situation. But I do really not want to deeply think about that. I have a problem that I must consider since yesterday, till today, just really today, the beginning of September 11, 2007 12:09 AM now.

As I said, I considered going out from number 4 and number 5. However, I can’t decide it emotionally soon. I need to consult also with some experienced people. Then I guess, it’s a good idea to not really leave them very soon, and I will not do that, of course. (State in Bahasa, please!)

Oke, nah jadi begini. Terhadap pertimbangan saya untuk berhenti dari tempat nomor 4 dan 5, jelas tidak akan segera saya lakukan. Berhubung saya tidak ingin ada preseden *istilah itu baru saya dapatkan sore tadi dari seorang atasan di tempat nomor dua*, maka daripada ada anggapan negative tentang saya, yang tiba-tiba langsung berhenti, lebih baik saya bersabar dulu, tah?

Dan memang itulah yang saya rencanakan. Sejak awal, saya berencana untuk melewati lebaran dengan masih dipanggil Ms. Dinie oleh beberapa orang murid yang menyenangkan. Saya masih tetap ingin mendapat SMS Lebaran dari murid saya yang ingin mengirimkan SMS. Saya juga masih ingin diajak jalan-jalan Lebaran bersama murid saya *yang sebagian besar sudah seperti teman saja*.

Pertimbangan awal yang membuat saya ingin berhenti adalah: FOKUS untuk semester 5. Dengan rasa khawatir semester ini perlu tenaga ekstra dan tidak bisa diremehkan, seperti yang terjadi pada beberapa mata kuliah semester lalu, dan juga dengan beberapa orang dosen yang bisa saya pastikan, akan dengan murah hati memberikan tugas menyenangkan yang saya rindukan sekian bulan ini. Waktu siang setelah kuliah tetap saya gunakan untuk bersenang-senang *dan kadang menahan marah serta tawa* di almamater tercinta. Beberapa jam kosong bebas kuliah di pagi hari tetap saya manfaatkan untuk berbagi informasi dan mendengarkan lagu dengan format 3 barat 1 Indonesia. Beberapa jam sore sesudah Ashar mungkin bisa dimanfaatkan dengan cermat pula untuk sedikit mencari pengalaman lagi di tempat nomor 4. Namun waktu malam, saya tidak ingin diganggu!

Bayangkan, kapan saya bisa kerjakan tugas-tugas kuliah yang *saya pastikan* akan sangat banyak? Kapan saya bermain-main dan menikmati tugas kuliah saya? Masa malam sesudah malam? Nanti kalau saya kurus gimana? Kan dimarahin lagi.

Anyway, keputusan akhir tetap akan terjadi setelah lebaran, atau bahkan baru bisa terealisasi awal tahun nanti. Semoga saja.

Buble, I love your Everything. It released my stress, again and again!

One thought on “Hard Consideration (Part II)

  1. Hanafi Mohan says:

    ‘Alaykassalam,

    Saudaraku, izinkanlah aku.

    aku ingin menyapamu.

    aku anak Pontianak juga, lahir dan besar di Pontianak, sekolah dari SD hingga SMA (SMK/STM) di Pontianak.

    kini aku kuliah di suatu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

    saudaraku, aku berharap, semoga kota tumpah darahku (Pontianak) selalu tentram dan damai, walaupun badai Katrina, gelombang Tsunami, dan angin Lanina menghantam Khatulistiwaku.

    salam dari saudaramu,
    Hanafi Mohan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s