Perokok BODOH

Just opened some inbox in phone *my brother’s, not my boyfriend’s since I still HAVE NO boyfriend yet*, then found an SMS:


‘CERITA ROKOK’

Pada suatu hari aku diculik oleh penjahat yang namanya SURYA, setelah itu aku dibawa ke GUDANG GARAM, di gudang aku di tusuk dengan DJARUM SUPER dan aku dilumuri dengan cat BLACK, lalu aku dibawanya ke L A. Tiba-tiba aku diselamatkan oleh 3 orang, yaitu DJI, SAM, SOE pada saat itulah aku menjadi SAMPOERNA.

Then, just now, friends of mine sent me a similar-sound story which he called it as a ‘fairy taile’:


‘KISAH KERAJAAN ROKOK’

Ada seorang raja bernama ARDATH mempunyai putra bernama L.A suatu pagi ketika sang SURYA muncul pangeran diculik oleh 3 prajurit bernama DJI, SAM, SOE. Dia disekap di GUDANG GARAM dipukul dengan CAKRA dan dihajar sampai BENTOL BIRU kemudian diselamatkan oleh MARLBORO dibawa ke rumah sakit d… *sometextmissing* (since no credit anymore, I guessed).

Well, from both of the story, the last one I replied in Bahasa. Dan rasanya, dini hari ini *sejak menulis tulisan tentang SMS barusan, saya belum pejamkan mata* pun saya akan berbahasa Indonesia lagi. Bahasa Inggrisnya nanti saja, disimpan untuk beberapa mata kuliah yang sudah sangat saya rindukan setelah berbulan-bulan liburan tidak menjadi mahasiswa. *dan saya cenderung gunakan bahasa Inggris ketika akan bernostalgila dan ungkapkan apa yang tidak mau saya ungkapkan dengan bahasa Indonesia*


Sangat tertarik membahas tentang rokok, serta beberapa merek rokok yang dengan gratis tanpa komersil beriklan di blog saya ini. Patut diacungi jempol sebenarnya, melihat kreativitas orang-orang yang merangkai merek-merek *benarkah namanya ‘merek’?* rokok menjadi sebuah cerita begitu. Sama seperti saat menjelang Idul Fitri atau Ramadhan, *hm, sudah tinggal 9 hari lagi loh* ada pula yang merangkai judul operator selular menjadi cerita atau sekedar rangkaian kalimat sehingga menjadi ucapan unik.


Bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap enteng setelah membaca atau mendengar barisan kalimat semacam itu tersusun rapi menjadi rangkaian cerita. Disitulah otak manusia sedang bekerja, lexically berusaha mencari kata berikutnya yang cocok untuk ditaruh setelah kata sebelumnya agar menjadi kalimat yang rapi. Dan saya tidak cukup ahli untuk menjelaskan bagaimana manusia bisa menyusun kalimat menjadi rapi. Bisa dapatkan di ilmu Psycholinguistic kalo ga salah. Serta bukan itu pula tema besar kali ini. *Lain kali, jika saya sudah cukup kompeten untuk bahas tentang bagaimana manusia menyusun kalimat, saya janji saya akan publish di media yang tepat dan ‘menghasilkan’*.


Oke, mari kembali ke ‘Cerita-Cerita tentang Rokok’. Begitu saya membuka inbox di handphone adik saya dan membaca pesan singkat yang tidak singkat dari seorang teman tentang cerita tadi, yang terlintas pertama kali dalam pikiran saya adalah orang sedang merokok, sehari 12 batang, bibirnya hitam, paru-parunya hampir rusak, dan asap rokok yang menyebalkan, paling saya benci. Entah sudah berapa kali dan sudah berapa orang saya tanyakan, “Apa sih enaknya ngerokok”? dan ga ada satu orang pun yang bisa memberikan jawaban MEMUASKAN pada saya. Bukannya jawaban memuaskan, malah jawaban MEMUAKKAN!


Berhenti merokok, ga mungkin bisa kata mereka. Mulai dari mulut terasa pahit, kebiasaan yang memang ga bisa dihentikan, sampai alasan klasik seperti ditawari teman merokok sudah seringkali saya dengar. Lah, lantas Ramadhan nanti gimana? Toh bisa hidup tanpa rokok. Saya sangat tidak percaya jika ada orang yang bilang “TIDAK MUNGKIN BISA BERHENTI MEROKOK”. Saya punya bukti orang yang berhasil berhenti merokok. Ini bukan self-evidence. Ini fakta!


Percaya ngga percaya, Desta Club 80’s sudah 4 tahun berhenti merokok. Saya tau ketika Desta jadi bintang tamu di Empat Mata *ada gunanya juga ternyata nonton acara itu*. Jadi, kalo misalnya teman-teman tidak percaya, boleh deh tanya sama Empat Mata Mania yang lainnya. *eh, saya bukan Mania loh ya! Kebetulan nonton aja waktu itu*. Nah, itu Desta bisa.


Kalo boleh membawa self-evidence, saya contohkan satu orang lagi, yaitu tante saya *yang sempat saya singgung ga bisa masak di edisi WANITA HARUS BISA MASAK!*. Dulunya, dia perokok, cukup berat. Saya bisa lihat di kamarnya, sebelum dia menikah, bungkus rokok bekas dia merokok berjejer rapi, dan saya juga bisa mencium sisa aroma rokok yang tersisa di toilet dan dikamar saat dia sembunyi-sembunyi merokok. Sekarang, sudah berhenti merokok, tidak pernah lagi produksi kepulan asap sana sini.


Saya paham, bahwa di dalam batang rokok yang kecil dan dianggap nikmat tapi mematikan itu terkandung zat yang bisa membuat orang kecanduan. Tapi, bicara kecanduan, bukankah nge-drugs juga bikin candu? Kenapa ada sangat banyak orang untuk saya ajukan sebagai VERY STRONG EVIDENCE yang bisa berhenti mencandu dari drugs? Kenapa merokok saja tidak bisa?


Ngedrugs bahkan bisa bikin orang jadi gila, tah? Bisa bikin orang kehilangan nyawa kalo udah candu. Nah, drugs yang separah itu saja candunya bisa juga orang-orang berhenti. Personil Slank yang imagenya *dulu* sangat drugs, sekarang malah promo anti-narkoba sebagai keseriusan mereka berhenti ngobat. Beberapa teman saya pun sudah dinyatakan bebas dan bersih dari drugs. Lalu, kenapa merokok yang seharusnya (dan nyatanya) tidak lebih bahaya *benarkah rokok tidak lebih bahaya?* dari drugs saja tidak bisa?


Saya pun yakin, teman-teman perokok yang sedang membaca tulisan saya ini sudah cukup cerdas untuk mendengar dan membaca, bahkan di pack rokok itu sendiri, tentang bahaya yang muncul akibat merokok. Tentang rokok yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan semacamnya, yang mungkin sudah bosan didengar. Maka, saya beranggapan bahwa mereka yang masih sangat candu merokok, menyatakan diri tidak bisa hidup tanpa rokok, menghabiskan sebagian besar penghasilan bulanan untuk ‘belanja’ rokok adalah orang-orang TIDAK CERDAS yang TIDAK SAYANG dengan kesehatan diri sendiri. Kalau sudah begitu, bagaimana mau sayang sama yang lain? Sama diri sendiri aja ga sayang. *Hmmm, saya juga kayaknya masih belum sayang sama diri sendiri pagi ini. Sudah setengah 2, belum juga tidur hehe. Pantesan jomblo hehe, ga ada hubungannya sama rokok!*.


Oke, berhubung saya sudah mulai menyayangi diri saya sendiri (baca: capek) dan masih ingin bangun segar plus sehat di pagi yang cerah nanti, saya simpulkan bahwa:

PECANDU ROKOK = PEMBUNUH DIRI SENDIRI.

Sosial, kesehatan, masyarakat, budaya, bangsa, dan negara. Pecandu rokok berarti pelan-pelan membunuh, minimal membunuh diri sendiri.

2 thoughts on “Perokok BODOH

  1. cepot says:

    MEnarik banged posting soal ROKOK ataupun aktifitas MEROKOK. Dimana mana selalu saja ada orang yang mengepulkan asap rokok. Ditoko, di warung, di sekolah, di tempat perhentian Bus, dan lains sebagainya.

    Asal tau saja bahwa Rokok itu mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

    Nah kalaw getoh dimana donk Batas Amannya?. Menggunakan rokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.

    TIDAK ADA BATAS AMAN BAGI ORANG YANG TERPAPAR ASAP ROKOK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s