diSMSi WANITA LAIN


Bagaimana jika pacar kamu dikirimi SMS sama wanita lain? Atau oleh pria lain *bagi yang pacarnya berupa makhluk bernama Hawa*

Topik menarik untuk dibahas, tah? Walaupun sebagian pembaca blog saya ini, saya yakini tidak menganut paham ’punya pacar’ dan sangat mengagungkan pacaran indah setelah menikah, anyway saya tertarik untuk kasi sedikit opini tentang ’PACARMU DI-SMS-I WANITA LAIN’ *dalam konteks saya yang sedang tidak punya pacar. Aaargh, kapanku punya pacaaaar… kapanku punya pacaaaar (ayo kita nyanyi lagu Seurieus sama-sama)*

Nah, bagaimana jika pacar saya dikirimi SMS sama wanita lain? Yang saya garis bawahi adalah kata jika. Ini menunjukkan pacar saya tidak sedang dikirimi SMS sama wanita lain, atau saya sedang tidak punya pacar. Fakta yang terjadi dan sangat undeniable adalah saya sekarang tidak punya pacar. Maka, pertanyaan di atas jika kita terjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, harus gunakan Conditional Sentence *hmm, ada gunanya juga saya belajar Bahasa Inggris ya?*, menjadi ”If you your boyfriend is sent SMS by another (the other?) woman, what will you do?” atau menjadi ”What if your boyfriend is sent SMS by another woman?”. Pokoknya begitulah. Jadi, mari kita mulai pengandaian ini. Jawabannya apa, din?

Pertama, saya harus mengondisikan saya yang sedang punya pacar. Pacar yang saya impikan, yang sangat mencintai saya dan sangat saya cintai. Jika saya mencintai pacar saya sungguh-sungguh, maka yang saya lakukan adalah berusaha mengerti dan memahami dia semaksimal mungkin. Berusaha tau apa yang dia inginkan. Menjalankan ’job description’ saya sebagai pacarnya dengan baik. Hmmm, apakah terasa berlebihan? Semoga saja tidak. *maklum, udah lama ga pacaran hehehe*.

Kedua, saya juga harus menempatkan diri sebagai pacar yang sudah diperlakukan dengan layak oleh pacar saya. Artinya, pacar saya juga sudah menjalankan ’job desciption’-nya sebagai pacar yang baik dan saya impikan untuk saya. Mencintai saya, memahami saya, dan hal-hal lain yang tidak akan saya deskripsikan. Intinya, saya juga sudah ’diperlakukan’ selayaknya oleh pacar saya tadi.

Ketiga, saya mengondisikan diri sebagai pacar yang pacar saya itu sedang dikirimi SMS sama wanita lain. Nah, ini dia yang jadi tema besar kali ini. Sudah terkondisi dua hal tadi, bagaimanakah reaksi saya ketika tau pacar saya dikirimi SMS sama wanita lain?

Well, FIRMLY I answered ”IT’S OK!”. Mengapa tidak apa-apa?

See, mari kita lihat ’Wanita Lain’ yang bagaimana yang dimaksud.

Sebenarnya, wanita lain seperti apapun tidak akan jadi masalah untuk saya jika pacar saya dikirimi SMS. Baik itu wanita lain yang berniat menanyakan proyek, menanyakan tugas kampus yang belum selesai, bahkan sekedar wanita lain yang flirting dan iseng ngesmsin pacar saya untuk diajak SMSan. Toh yang diajak SMSan pacar saya, bukan ’milik’ saya tah? Secara wanitawi (maksudnya naluri wanita, gitu hehe), rasa cemburu tentu saja ada. Mau tidak mau, ketika saya sudah berkomitmen dan sudah mendeklarasikan sebuah hubungan sebagai hubungan bernama pacaran serta sudah memiliki tanggal keramat bernama ’tanggal jadian’, akhirnya saya akan merasa ’memiliki’ orang yang menjadi pacar saya itu. Apalagi, dengan sifat saya yang *sempat menjadi sangat* posesif ini. Cemburu kan wajar. Sama sahabat aja saya bisa cemburu. Ya sama pacar masa ga boleh? Masalahnya, dia kan ’hanya’ pacar. Apa sih pacar donk, juga!

Lalu, jika saya tau pacar saya dikirimi SMS sama wanita lain, kemudian secara tidak sengaja saya membaca SMSan yang lupa dihapus, apa tindakan saya? Apakah saya akan mentransformasikan diri menjadi kekanak-kanakan dengan cara mengirimi SMS penuh kata kasar, caci, dan hina kepada wanita lain yang mengSMS pacar saya? Ataukah saya hapus inbox berisi SMS dari wanita lain itu? Jelas tidak. Karena itu berarti menghilangkan bukti otentik!

Sebagai wanita yang sudah beranjak dewasa, serta sempat berada pada posisi ‘wanita lain yang cukup menyebalkan’, dan pernah pula mendapati inbox pacar saya berisi sms dari wanita lain sehingga jika ada lagu ’SMS siapa ini bang’ versi jazz akan saya nyanyikan dihadapan wajahnya, maka tindakan saya adalah: KLARIFIKASI. *Hmmmph, kenapa isi blog saya tiba-tiba jadi berisi masalah remaja gini ya? Emang kedapatan SMS dari wanita lain di inbox pacar itu masalah remaja ya?*

Sebuah klarifikasi yang sebetulnya tidak perlu saya lakukan, saya yakin. Pacar saya kan sayang sama saya. Jadi, palingan dia jawab: temen, rekan kerja, adik kelas, junior ganjen, bla bla bla… deh pokoknya. Belum lagi dengan embel-embel ”Masa kamu ga percaya sama saya. Kalo ga percaya ya udah!”. Nah, saya bisa ngomong apa kalo udah kayak gitu? Lagian, saya yakin, pacar saya tidak akan sebegitu bodohnya untuk lupa menghapus SMS dari wanita lain tersebut jika dia tau saya sebagai pacar yang pasti akan bongkar inbox dan semua rekaman yang terjadi di HP-nya sebelum ketemuan dengan saya.

Mungkin, beberapa penganut ’tidak anti-pacaran’ akan membatin, ”Kamu kan ga punya pacar, din. Sekarang sih bisa ngomong begitu. Buktiin dong kalo kamu udah punya pacar”. Boleh, untuk yang mau nantangin saya dengan batinan seperti itu, saya terima tantangannya. Yakinlah, sampai dengan waktunya nanti saya menikah, saya akan selalu bernyanyi ”Kapanku punya pacaaar… kapanku punya pacaaaar…” hehehe.

Barangkali, sebelum saya menikah, saya belum akan punya pacar. Secaranya baru saja kemarin dikasi wejangan, diingatkan bahwa jodoh ga akan tertukar, bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah, mulai dari maut, jodoh, dan rejeki. Yang agak lebih fleksibel adalah rejeki. Tergantung usaha kita menjemput rejeki. Sedangkan masalah jodoh, ga perlu khawatir, ga perlu muter-muter ngelilingin bumi juga Insya Allah dikasi jodoh yang terbaik sama Allah. Pacaran bertahun-tahun juga, kalo bukan itu jodohnya, ya ga bakalan jadi. Jadi intinya, pacaran itu hanya buang-buang tenaga, energi, pikiran, waktu, biaya, dan segala macam hal-hal bermanfaat lain. Kamu gimana, din?

Well, mari kita lihat, akankah saya bertahan untuk tidak membuang-buang tenaga, energi, pikiran, waktu, biaya, dan segala macam hal-hal bermanfaat lain? Seberapa kuat pertahanan saya untuk bernyanyi ”Kapanku punya pacaaar?”. Hari ini saya masih bernyanyi. Let’s see for tomorrow and next, and next, and next.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s