TV or NO TV?

Buble is really great in his Everything. Yes, I am listening Buble, now. Just dunno how could he arrange this song so amazing? He sings it every single nite of mine, amazingly! I never mind repeating this song as many as possible. Everything is really everything.

But I just got back from watching Television. Peterpan and Letto performed very well. Hoooh, Noe sang Sebelum Cahaya so nice, beautifully. But however, they still can’t beat my Everything! I am listening it again now.

Talking about watching Television, yesterday I didn’t write any LIFE here because I was just too tired and sad after crying stupidly in front of that magic box when I was watching some sinetrons. Oh sinetron, my country’s identity. Indonesian sinetrons always tell about love affair, sacrifice, imagination, arranged married, competition, hmmm well. Hmm, is there any good side that we can get from it?

Nonton sinetron. Itu yang saya lakukan kemarin malam setelah balik ngajar. Sebenarnya sama sekali ga niat, hanya kepencet salah satu saluran TV swasta, kebuka sinetron berjudul RATU, diperankan oleh Christian Sugiono sebagai Rama, Nabilla Syakieb sebagai Ratu, dan Aditya Rahman sebagai Edgar. Ada salah satu aktor Indonesia favorit saya juga di sinetron itu, yang membuat saya memilih untuk bertahan nonton tu sinetron, Mateus Mucus sebagai ayahnya Ratu. *weitz, jadi inget betul yak sampe ke pemeran-pemerannya hwahah*.

Ada apa sama film itu? Nah, jadi gini. Pas pertama saya nonton tu film, pas kena bagian waktu Edgar sama Ratu lagi di dalam mobil, engga tau bagaimana bisa nyampe ke obrolan Edgar nyuruh Ratu balik ke Rama karena Ratu sebenarnya ga cinta sama dia, dan membatalkan pernikahan mereka. Waaah, saya kan orangnya ga bisa niy liat pria menangis *sumpah, baik itu pria menangis di depan mata maupun dengan pembatas kotak kaca*. Nah, walhasillah saya dramatisir sinetron itu dengan ikut merasakan apa yang saat itu dirasakan sama Edgar, rela membiarkan wanita yang sangat dicintainya untuk kembali ke Rama, pria yang dicintai Ratu. Hmmm, saya pun larut dalam sedih. Tes tes tes, air mata ngalir *cengeng banget yak?*. Saya membayangkan dan mengingat lagi, betapa seringnya saya berada dalam posisi Edgar. Walaupun kasusnya tidaklah sama persis *karena saya belum pernah akan menikah dan ngga mau batalin pernikahan*, tapi masalah rasa tentang merelakan orang yang dicintai untuk pergi dan akhirnya benar-benar ditinggal pergi, sama persis.

Sisa ceritanya, yaaa sebagaimana sinetron Indonesia lah yeah. Banyak mengkhayal dan tiba-tiba terjadi hal-hal yang diluar akal sehat, jadi saya males ah ceritain. Intinya, yea saya suka sama Mateus Mucus. Hehe. Engga engga, intinya saya sedih sekali berada dalam posisi Rama selama beberapa waktu, dan bahkan belakangan ini pula teralami lagi *secara saya TERLALU memanjakan perasaan, cepat jatuh, cepat sakit, tapi Alhamdulillah cepat juga sembuhnya*.

Lalu, saya pindah-pindah channel. Iklan-iklan yang lewat, berlalulah. Saya pindah ke sinetron yang saya ga tau judulnya apa. Saya juga ga tau siapa-siapa aja yang memerankan sinetron itu. Yang saya inget, nama sinetronnya antara lain Moza, Kayla, dan entah siapa lagi saya lupa. Tapi ada satu kesan yang saya dapatkan dari sinetron itu. Cerita yang saya tangkap adalah, tentang seorang pria yang disukai oleh teman kantornya, Moza. Tapi pria itu ngga cinta sama Moza. Moza dicintai dengan sangat oleh pria lain, temennya pria yang dicintai Moza. Hebat. *hmm, untuk mempermudah, izinkan saya menamai tokoh-tokohnya ya? Dan jika ada kesamaan nama, ini bukanlah hal yang disengaja, suwer*.

Oke, jadi nama pria yang disukai Moza adalah Aldo. Lalu, nama pria yang mencintai Moza dengan sungguh-sungguh dan juga merupakan temannya Aldo adalah Agung. Nah, cerita yang saya tonton yaitu ketika Aldo ketemu dengan Agung di kafe. Agung looked so sad, karena abis berantem sama Moza. Kurang lebih, mungkin seperti ini script skenario obrolan antara Aldo dan Agung.

Aldo: Hei, gung. Kok keliatan sedih? Ada apa?

Agung: Hmm, iya do. Saya berantem lagi sama Moza.

Aldo: Loh, memang ada apa lagi kamu sama Moza?

Agung: Ini ada hubungannya sama kamu, Do. Tapi jangan tersinggung dulu. Jadi gini. Dia selalu nuntut saya untuk berubah, Do. Berubaha supaya saya bisa seperti kamu. Saya ngerti banget do, Moza memang pernah suka sama kamu, dan masih susah buat ngelupain kamu. Tapi, saya kan orang yang beda. Karakter saya ya saya, bukan Aldo. Pribadi saya, ya saya. Dia ga bisa kayak gitu dong nuntut saya untuk berubah jadi orang lain. Ya akhirnya kita berantem terus deh.

Aldo: Wah, dia ga boleh gitu dong. Boleh ga saya ikut ngomongin masalah ini ke Moza?

Agung: (mengangguk). Silahkan, do.

nah, saya ga tau persis bagaimana perkenalan antara Aldo dan Agung. Tapi yang pasti, Moza dan Aldo adalah teman satu kantor. Lantas, pada suatu pagi, mereka berdua tak sengaja ketemu di kantor, sebelum mulai kerja. Terjadi dialog.
Moza: Hai, do. Pagi! Mau kemana? Buru-buru amat kayaknya.

Aldo: Hai, za. Mau ketemu papa nih (nah, ini saya juga ga ngerti. Bagaimana caranya ketemu papa di kantor? Mungkin papanya Aldo atau papanya Moza direktur di perusahaan itu –yea, biasalah ya sinetron Indonesia).

Moza: Gimana hubungan kamu sama Fitri do?(Saya ga tau juga fitri itu siapa. Tapi kayaknya itu pacarnya Aldo)

Aldo: Kita baik-baik aja. Oiya, za. Saya mau ngomong sedikit tentang Agung.

Moza: (ekspresi kaget).

Aldo: Kamu ga boleh kayak gitu dong sama Agung. Dia itu sayang banget sama kamu. Kamu ga bisa menuntut Agung untuk berubaha menjadi seperti aku.

Moza: Ya, kamu kan tau do. Sampai sekarang, jujur, aku ga bisa melupakan kamu. Aku ingin dia bisa seperti kamu.

Aldo: Za, manusia itu beda-beda. Kamu itu beruntung karena Agung sayang banget sama kamu, tulus. Kamu beruntung karena dicintai oleh pria seperti Agung. Hubungan cinta kalian mulus, tidak ada begitu banyak rintangan. Saya yakin, kalau Agung mengalami masalah yang sama seperti saya (nah, masalahnya apa juga saya ga tau), dia juga pasti akan sangat berjuang keras untuk tetap mempertahankan hubungannya sama kamu.

Moza: Ya, do. Melihat perjuangan cinta kamu ke Fitri, aku jadi makin ga bisa ngelupain kamu. Aku jadi makin salut do sama kamu. Dan tentang masalah aku sama Agung, yaaa mungkin karena memang pada dasarnya kita udah ga cocok aja do, jadi bawaannya berantem terus.

Aldo: Ya, ……………………. (udah lupa dialognya apa)

Moza: Oke, mulai sekarang saya janji ga akan nuntut yang macem-macem lagi sama Agung. Makasih ya do.

—————————————

Nah, apa yang menarik dari penggalan cerita sinetron itu?

Walaupun, sekali lagi, cerita sinetron itu sangat tidak masuk akal (bayangin aja, awalnya buru-buru, tapi sempat ngobrol sambil berdiri pas mau ketemu sama papa, gimana coba?), tapi penggalan cerita tentang ketegaran Agung menghadapi Moza mau tidak mau mengingatkan saya sama kasus yang mirip. Menuntut seseorang untuk menjadi seseorang. Kapan bisa jadi nyata? Ya jelas susah.

Selain itu, kebesaran hati Agung menerima kenyataan bahwa Moza masih belum bisa melupakan Aldo, pria yang juga temannya dan kemungkinan masih disukai Moza, benar-benar membuat saya mengingat kembali kasus serupa tapi tak sama. Bedanya dengan sinetron Ratu, saya tidak mengeluarkan air mata sedikitpun waktu nonton cerita ini. Ga ada bagian pria menangis soalnya.

Anyway, sejelek apapun sinetron Indonesia, sebenarnya selalu ada pesan yang berusaha disampaikan oleh si pembuat cerita *dan sayangnya, pembuat cerita tuh kadang-kadang bisa dibilang NGGAK ADA karena cerita sinetron itu sebagian besar nyaplok cerita-cerita Korea, India, dan negara-negara lainnya—Wikipedia.net*. Jadi, seharusnya ketika nonton sinetron, isi pesanlah yang berusaha kita ambil, bukan cela mencela akting si ini jelek si itu kaku si anu seharusnya ga lulus casting dan lain sebagainya.

Yeah, kalo bicara tentang kualitas siiih, sinetron Indonesia bisa dibilang tidak punya daya saing tinggi. Mau dibandingkan sama siapa dulu nih? Sama telenovela spanyol? Saya juga tidak begitu paham Telenovela itu ceritanya bagaimana. *tapi jangan-jangan kurang lebih sama kayak sinetron yak? Cuman pemainnya, gilaaa maaan cakep-cakep semua. Mulai dari Armando sampai Alberto*.

Setelah nonton sinetron-sinetron tadi, saya pindah channel lagi. Program ketawa-ketawa. Yaaa, palagi kalo bukan Empaaaaaaat…. Mataaa. Bintang tamu kemarin Shanaz Haque sama Gilang Ramadhan, Sophan Sopian sama Widyawati dan Dominique Sandra. Lucu, lumayan deh. Saya ingin bisa punya rumah tangga yang awet dan menyenangkan seperti para bintang tamu itu. *hmmph, rumah tangga? Yak, saya sekarang berada dalam posisi anak perempuan satu-satunya dalam bahtera rumah tangga ayah dan ibu saya*.

Apalagi? Ya udah gitu aja. Sisanya saya tidur, cape. Dan malam ini (sudah pagi, jadi pagi ini), saya melepas penat dengan nonton TV juga. Namun sebelumnya, aktivitas saya ya seperti biasanya. Hari ini, ngajar dan ngajar. Kemarin di tengahi sama siaran. Hari ini ga ada jadwal siaran. Jadi hanya mengajar dan mengajar. Sama ke kampus pagi-pagi, foto untuk bikin KTM baru.
Oke, ayo ngobrol tentang mengajar. Mari pindah hari dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s