Ketika Pontianak macet…

Wow, hari-hari kemarin sungguh benar-benar spesial. Ada begitu banyak pasangan memanfaatkan momen tanggal yang indah, 070707 dan 080707! Mencatatkannya dalam sejarah hidup mereka, menjadikannya sebagai hari pernikahan. Termasuk Irfan Hakim dan Dela, nikahnya Sabtu lalu ya? Waaah, saya patah hati. Padahal saya suka sama Irfan Hakim, secaranya kita pernah ngobrol di studio Volare waktu roadshow Aneka Yess! dan Irfan panggil saya ”Nie”.

Hmmm, NIE panggilan yang beda dari yang banyak orang panggil saya, teriak ”Din.. din… din… UDIN” dodol banged dah hehehe. Nie, that is really a nice nickname. Beberapa orang meletakkan diri mereka begitu special dengan memanggil saya “Nie” bukan “Din”. Beberapa orang yang menyayangi saya panggil saya ”Udin” (sebagian pendengar yang rikwes juga ada yang meng-Udin-kan saya), dan segelintir orang panggil saya ”Dince”. Hanya satu orang saja yang panggil saya ”Die (baca: di’)” dan tak seorang pun panggil saya ”Fanny”
secaranya nama lengkap saya adalah Dini Haiti Zulfany. Padahal sudah sejak SMP saya ingin sekali ada yang panggil saya Fanny. Satu orang saja tidak apa-apa. Tapi, sampai sekarang tak seorang pun panggil saya Fanny. Huh, nanti kalau dapet kenalan baru, saya mau memperkenalkan diri dengan nama ”Fanny” saja eheehehe.

———–skip skip skip —————–

Saat Pontianak begitu macet akhir pekan lalu, hanya karena sebuah Wedding Party. Kenapa ya saya harus selalu membahas tentang

P-E-R-N-I-K-A-H-A-N?

Sebegitu pentingnyakah pernikahan untuk saya? Yaiyalah! Tapi jelas tidak sekarang ya? Besok saja kita bahas pernikahan lagi. Sekarang mau bicara tentang Wedding Paty yang membuat Pontianak macet.

Astaga! Salah siapa sih sampai jalanan bisa jadi macet begitu? Apakah kalimat di atas sudah benar ya –hanya karena sebuah Wedding Party–? Apakah salah Wedding Paty-nya? Atau salah pengantinnya? Atau salah polisinya? Atau salah tamunya? Atau salah tukang parkirnya? Atau salah pemakai jalannya? Ataukah jalannya yang kurang lebar? Oooh Pontianak… saya ngga rela kalau kamu macet. Nanti seperti Jakarta.

Dalam kemacetan jalan itu, begitu beragam rona wajah dan mimik muka terpancar.

Secaranya saya macet dalam keadaan bermotor, sehingga debu-debu jalanan dan udara-udara yang bercampur dengan asap knalpot akhirnya mau tidak mau terhirup pula. Otomatislah, wajah-wajah manusia penghuni Kota Pontianak tercinta ini pun jadinya bisa saya amati dan perhatikan secara langsung tanpa kaca pembatas baik yang jenis transparan, agak gelap, maupun yang gelap. Lewat kacamata minus ini, saya lihat ada berbagai macam wajah sumringah yang ingin segera pulang ke rumah, ingin segera menembus kemacetan jalan yang tak rutin mereka rasakan. Seliweran kendaraan (sebagian besar motor, dienz) bertaburan kesana kemari *lah, bertaburan? Kayak salju aja jadinya ya heheh*. Macam-macam merek motor. Sebagian kreditan dan sebagian sudah lunas. Kalau saya, Alhamdulillah sudah lunas.

Sungguh lelah larut dalam kemacetan jalan. Sampai di rumah pun saya langsung rebah dan tak sadarkan diri. Terbangun jam 2 pagi. Cek inbox handphone, kartu IM3, ada sms darinya yang tak terduga (sudahlah, tak perlu dibesar-besarkan. Tidak special kok). Momen terbangun di sepertiga malam itu saya manfaatkan untuk sedikit perbaiki shalat saya dan berusaha untuk mendekatkan diri lagi. Entahlah, yang saya rasakan akhir-akhir ini adalah tidak terlalu dekat padaNya. Tapi saya ingin dekat lagi. Saya tidak mau DIA jauhi saya. DIA ada di dekat saya. Saya yakin.

Hmmm, harusnya hari kemarin menjadi hari yang meeting juga. Tapi, mempertimbangkan beberapa hal yang selayaknya dipertimbangkan, untuk apa saya datang rapat itu? Jadi, karena kemarin –pada jam yang saya seharusnya rapat- saya sedang on line dan banyak pula teman yang lain on line, akhirnya tidaklah saya datangi rapat yang tak begitu penting itu. Sama sekali tak rugi saya tidak datang. Karena ketika saya tanyakan perihal rapat itu, teman-teman saya beranggapan bahwa pembahasan di rapat itu ’ga terlalu gimana-gimana kok, din’. Haha. Beruntunglah saya tidak datang.

Sekarang sedang siang, 9 Juli 2007, hari Senin. Sebagian besar orang berkata ”I hate Monday”. Tapi saya selalu berkata ”I love Everyday!”. Saya tidak bisa sungguh-sungguh membenci hari-hari. Karena sebenarnya pada dasarnya dan pada hakikatnya, semua hari sama saja untuk saya. Hanya ada satu hari yang berbeda. Taukah anda hari apa? Yaiyalah,

HARI ULANG TAHUN SAYA!


Semoga benar-benar spesial. Paling tidak, saya sendiri nanti yang mengaturnya menjadi begitu spesial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s