Mereka menyemangatiku!

Wah, sudah tanggal 21.

Tidak saya sadari bahwa saya sudah melewati hari kemarin melalui tengah malam ini. Begitu banyak semangat dan tawa kemarin. Walaupun sempat basah karena hujan, tapi kehangatan tak pernah surut datang.

Betapa menyenangkan, menyadari saya mampu lewati begitu banyak hal yang awalnya saya pikir, tak akan sanggup saya lewati. Ya jelas saja saya berpikir begitu, karena saya hanya memikirkannya. Saya belum mengerjakannya. Saya belum rasakan bahwa semua itu sebenarnya tidak berat. Lagi-lagi, kata-kata ibu saya harus saya ngiangkan:

Tugas-tugas kampus tu jangan dipikirkan, kerjakan!

Ah, sungguh kata-kata yang sederhana namun undeniable. Sekarang menjadi kalimat penyemangat tiap kali saya rasakan tugas-tugas yang berat. Selain juga kalimat singkat dari dosen saya, yang juga dari orang tuanya asal kata-kata itu:

Sekali maju, jangan pernah surut!

Sungguh, memang sekedar kata-kata. Kalau kita simak at a glance, tak akan ada artinya barangkali. Tapi kalau didalami, daleeem banget jadinya. Benar-benar membuat saya semakin semangat. Tapi sayang, tugas kampus sudah selesai semuanya. Dan saya sekarang siap-siap liburan, membiarkan otak ini melepas regangnya. Mungkin ia sudah bosen lihat kertas berantakan di kamar. Mungkin pula ia bosan memerintah jari-jari ini menaruhkan buku-bukunya ke keyboard, terus membiarkannya meng-google hal-hal yang di luar kemauan. Terpaksa!

Namun terpaksa kali ini sangat indah. Terpaksa yang memintarkan deh, sumpah. Kalau saya tidak cari-cari dan tidak usaha kanan kiri depan belakang, yaa apa bedanya saya sama orang yang benar-benar sekedar jualan kecap saja di kelas. Saya harus jadi penjual kecap yang intelek dong! Beda sama penjual kecap lainnya. (Kan, bingung… Kenapa jadi jualan kecap? Ahahaha, soalnya saya suka ngobrol di kelas, dan sama dosen saya – Pak Gatot yang tercinta – saya dibilang jualan kecap! Hiks, sedih deeeh).

———————– skip skip skip ———————–

Kadang pula, saya merasa saya kurang tegas bertindak. Sehingga rasa-rasanya, terasa they are too free with me. Mereka jadi kurang ajar sama saya. Ah, tapi sepertinya itu hanya perasaan saya saja. Toh buktinya, setiap kali saya minta waktu untuk bicara, mereka selalu berikan dan dengarkan, ditambah dengan attention yang menyenangkan hati.

Terima kasih murid-muridku… i luv u all…



Sekarang, otak saya sudah memerintah tangan dan jari jemari ini untuk berhenti bermain-main dengan keyboard, memerintah mata ini untuk lelah melihat layar tipis bercahaya, dan memerintah telinga ini untuk berhenti mendengar Avril Lavigne bernyanyi. Artinya, saya harus segera tidur!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s