Hati-Hati Menuduh Munafik

Terinspirasi oleh teriakan seseorang yang saya dengar dari televisi, “MUNAFIIIIK!!!!”, katanya. Fenomena yang masih terus terjadi hingga kini adalah begitu mudahnya kita menuduh seseorang itu munafik. Dan menyedihkannya lagi, sering kali penuduhan tersebut digunakan hanya sebagai tameng atas ketidak sanggupannya untuk berbuat benar. Saya kasih analogi sedikit ya. Atau cerpen lah… berikut ini…

Cerita 1:

Pemuda 1: (sedang membawa motor dan bertemu dengan lampu merah. ia pun berhenti)

Pemuda 2: (sedang membonceng dibelakang Pemuda 1) “Hei.. bisa lewat tuh. Rada kosong kok. Ayo tancap gak. Lagian khan gak ada polisi juga kok”

Pemuda 1: “Nggak ah. Lagi lampu merah”

Pemuda 2: “Halah… khan kau juga mau cepat khan. Munafik sekali kau”

Cerita 2:

Pemuda 3: “Wah.. ada cewe pake baju seksi tuh. Wuiiiiih…. Lihat cuy”

Pemuda 4: “Nggak ah. Gak enak mo ngeliatnya”

Pemuda 3: “Yaaaahhhh…. Muna lo”

Ok. Ceritanya sedikit saja ya (kesamaan cerita hanyalah kebetulan saja. tokoh dan cerita tersebut hanyalah fiktif. hehe… udah kayak film/sinetron aja ya).

Baiklah. Apa hasil pengamatan singkat Anda? Kalau hasil pengamatan saya adalah pemuda 1 dan 4 bisa jadi sedang berlaku munafik karena mungkin saja di lain waktu di kala sendiri ia berniat melanggar aturan (garis bawahi kata berniat ya) atau sebenarnya ia sedang berusaha untuk berbuat kebaikan kepada dirinya sendiri dulu dan berusaha tidak membiasakan diri untuk mengikuti hawa nafsu yang tidak baik. Munafikkah si pemuda 1 dan 4? Tunggu dulu. Jangan terlalu cepat menuduh. Hehe…

Nah.. bagaimana dengan pemuda 2 dan 3? Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang termasuk vokal dan gemar berkomentar, dan mungkin juga jujur karena mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya. Atau bisa juga mereka adalah orang yang lemah dan selalu berusaha untuk mencari teman yang bisa menenangkannya kala dia berbuat yang tidak baik dengan cara mencari partner in crime. Padahal ia sendiri tahu bahwa itu adalah perbuatan tidak baik namun tidak punya cukup keberanian untuk melawan hawa nafsunya sendiri. Munafikkah si pemuda 2 dan 3? Tunggu dulu. Jangan pula terlalu cepat menuduh. Hehe….

Hati adalah demikan halusnya hingga tidak setiap sudutnya bisa terlihat oleh mata. Bukan berarti penulis bebas dari segala penyakit hati, termasuk kemunafikan, namun jadikanlah tulisan singkat ini sebagai pengingat diri kita sendiri untuk mengurangi kadarnya sedikit demi sedikit hingga akhirnya kembali bersih seperti bayi yang baru lahir. Janganlah terlau cepat menuduh, tetapi jangan pula terlalu melemahkan diri untuk tidak tegas dalam menilai benar atau salahnya sesuatu. Semakin cepat kita berpikir untuk berusaha mencari kebenaran, maka semakin cepat pula kita akan disuguhkan solusi untuk mengkoreksi kesalahan yang kita miliki dari arah yang tidak kita sangka-sangka.

Sumber: dotcomtraveler

Menuduh Org lain Jahat, Celaka, Munafik, Kafir, atau bahkan Saleh (Cukuplah Allah swt yang Mengetahui)

Hadis shahih Bukhari no 1713

Dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwa Mu’az bin Jabal ra sholat dengan Rasululllah saw. Setelah itu ia kembali kepada kaum-nya dan sholat bersama mereka, lalu ia membaca surat al Baqarah (surat yang panjang. red). Ada seorang pria mendahului dan sholat dengan ringkas saja. Hal itu disampaikan orang kepada Mu’az , lalu ia berkata: “Orang itu munafik.” Kabar ini sampai kepada orang itu. Lalu ia datang kepada Nabi saw dan berkata, “Ya, Rasulullah ! kami ini bekerja dengan tangan kami. Kami mengairi kebun-kebun kami. Kemarin Mu’az sholat bersama kami dan ia membaca surat al Baqarah. Lalu saya mendahului. Ia menuduh saya munafik !” Rasulullah saw berkata, “Hai Mu’az, tukang membuat keributankah engkau ?” Rasul mengucapkannya tiga kali. “Bacalah sura ‘Wasy-syamsi wa dhuhaha’, surat ‘Sabbihisma rabbikal a’la, dan surat-surat yang seperti itu.”

Hadis shahih Bukhari no 1709

Dari Abu Zar ra, ia mendengar Nabi saw bersabda, “Seorang pria yang menuduh pria lain jahat, atau menuduhnya kafir, maka tuduhan itu berbalik kepadanya, jika orang yang dituduhkannya itu tidak seperti itu.”

Hadis shahih Muslim no 2249

Dari Jundab ra, katanya Rasulullah saw bercerita bahwa seorang laki-laki pernah berkata: “Wallah ! (Demi Allah) Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa si Fulan.” Maka sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, “Siapa itu bersumpah atas nama-Ku, bahwa Aku tidak akan mengampuni dosa si Fulan? Sesungguhnya Aku mengampuninya. Maka hapuslah amalanmu (karena ucapanmu itu).”

Hadis shahih Muslim no 2251

Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang berkata, ‘Celakalah mereka!’ maka orang itulah yang paling celaka.” وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ {47}7 Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.(al Anbiyaa’ 21:47)

Hadis shahih Bukhari no 250

Mahmud bin Rabi’ AL Anshari ra menceritakan: ” Bahwa ’Itban bin Malik adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw dari golongan Anshar yang ikut dalam perang Badar. Dia datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ”Ya, Rasulullah ! Penglihatan-ku sudah lemah. Sedangkan aku shalat menjadi imam bagi bagi kaum-ku. Apabila hari hujan, maka air mengalir di lembah yang terbentang antara rumahku dan mereka, sehingga aku tak dapat datang ke mesjid untuk shalat berjama’ah dengan mereka. Aku ingin, ya, Rasulullah, supaya Anda datang ke rumahku, kemudian Anda shalat di sana dan jadikanlah rumahku itu menjadi mushala.” Jawab Rasulullah saw, ”Insya Allah, aku akan datang.” Kata ’Itban, ”Pada suatu pagi Rasulullah datang bersama-sama dengan Abu Bakar. Ketika itu hari telah agak siang. Rasulullah minta izin hendak masuk ke rumahku dan aku mempersilahkan beliau masuk. Ketika beliau telah berada di rumahku beliau tidak duduk. Beliau bertanya: ”Di sebelah mana engkau suka aku shalat di rumahmu ini?” Kata ’Itban: ”Aku hanya menunjuk ke suatu sudut dalam rumahku.” Maka berdirilah Rasulullah di tempat itu, lalu beliau takbir. Kami pun berdiri dan membuat shaf di belakang beliau. Beliau shalat dua raka’at kemudian memberi salam. Setelah itu minta beliau tinggal sebentar untk menikmati makanan yang telah disediakan untuk beliau. Maka berdatanganlah para tetangga berkumpul ke rumah itu. Di antara mereka ada yang bertanya, ”Di mana Malik ibnu Dukhaisyin atau Ibnu Dukhsyun?” Kata yang lain, ”Si Munafik itu?? Dia tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Sabda Rasulullah, ”Janganlah berkata begitu ! Bukankah anda tahu bahwa dia telah mengucapkan La illaha illallah, karena menginginkan keridhoan Allah?” Jawab orang itu, ”Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih tahu.” Dan katanya pula, ”Kami telah menyaksikan bagaimana pandangan dan kejujuran Nabi menghadapi orang-orang munafik.”

Bersabda Rasulullah saw: ”Sesungguhnya Allah mengharamkan masuk neraka orang-orang yang mengucapkan ”laa illaaha illallah” dengan niat semata-mata karena menginginkan keridhoan Allah.” وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ (١١٧)0 Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (al An’aam 6:117) قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَن شَاء أَن يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا {٥٧} وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا {٥٨}2 Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya. (57) Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya, (58) (al Furqaan 25)

Catatan penyadur: cukuplah Allah yang membuat perhitungan pahala dan dosa cukuplah Allah yang mengetahui pahala dan dosa seseorang manusia diperintahkan untuk ‘amar ma’ruf dan nahi mungkar; bukan diperintahkan menilai keimanan, kesalehan atau ketakwaan orang lain; bukan pula untuk mengukur derajat dosa, kekafiran, kemunafikan orang lain. bila melihat orang lain melakukan kemungkaran, ajaklah dan bantulah dia untuk kembali kepada jalan Allah swt.

Hadis shahih Bukhari no 650

Kharijah bin Zaid bin Tsabit bercerita, bahwasannya Ummul ‘Ala, seorang wanita Anshar yang pernah bi’at (a) dengan Nabi saw menceritakan kepadanya bahwa seorang Muhajirin mengadakan undian, kebetulan jatuh pada kami Usman bin Maz’un, lalu kami beri tempat di tempat kami. Tidak lama kemudian Usman sakit, dan menyebabkan dia meninggal dunia. Mayatnya kami mandikan dan kami kafani, setelah itu Rasulullah pun tiba. Kataku, “Semoga rahmat Allah tercurah kepadamu hai Bapak Saib (Usman). Aku menjadi saksi bagimu, sesungguhnya Allah memuliakanmu.” Nabi saw bertanya: “Bagaimana engkau tahu bahwa Allah telah memuliakannya?” Jawabku, “Ya, Rasulullah ! Biarlah Bapakku jadi tebusanmu. (b) Siapakah kiranya yang dimuliakan oleh Allah?” Jawab Nabi saw: “Dia telah meninggal. Demi Allah, aku hanya mengharapkan, semoga dia mendapat kebaikan. Demi Allah, biarpun aku seorang Rasul Allah, namun aku tidak tahu apa yang diperbuat terhadap-ku.” Kata Ummul ‘Ala, “Demi Allah ! Sesudah itu saya tak pernah lagi menyatakan seseorang saleh.” Catatan pinggir: (a) Bi’at: bersumpah atau berjanji setia akan mematuhi segala peraturan. (b) Kata-kata ini diucapkan oleh orang Arab untuk menunjukkan kesetiaan, kepatuhan dan penghormatan.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s