I am lovable

Saya pernah ngomen untuk tulisan pada sebuah blog yang sampe hari ini saya harepharepin untuk diupdate tapi gak diupdate juga *hehe, panjang banget deskripsi untuk blog LSK* :P. Komen saya bunyinya begini: “Lovabilitas *maksutnya tingkat kepantasan seseorang dicintai hehe :P* dinilai dari seberapa banyak nasihat yang masuk untuknya.. why? bcoz, orang yang menyayangi akan senantiasa memberi nasehat terbaik, agar yang disayang selamat dunia akhirat.”

Lovable.

Aha! Saya senang betul dengan kata itu, kawan. Mengingatkan saya pada lirik lagu Sheila On 7, “Mungkin kau takkan pernah tau, betapa mudahnya kau untuk dikagumi. Mungkin kau takkan pernah sadar, betapa mudahnya kau untuk dicintai.”

Lovable: menimbulkan rasa sayang. Itu menurut Sederet.com. Kalo saya sendiri, mengartikan LOVABLE sebagai kualitas yang pantas bagi sesuatu ato seseorang untuk disayangi. Seberapa lovable sih emangnya dia? Apa iya kalo orang lovable, sering dapet nasehat?

Well, well. Kalo rujukan temanteman adalah komen saya di atas, berarti itu bolehlah kita masukkan sebagai salah satu indikator kelovablean *duh, ga enak maen asal mixing-code begini. Kita ganti jadi lovabilitas aja ya, biar kerasa Indonesia :D*. Lalu, benarkah saya lovable? Tenang, saya tidak akan menggiring tulisan ini menjadi sebuah hasil karya yang aroma thekupunya kental terasa. Kalo yang pengen ngerasain aroma thekupu kental asli ga campur aduk dengan sisi lain kehidupan, silahkeun berkunjung ke shelter kedua saya.

Mari, langsung aja kita kunci kata: MENASEHATI, dengan nasehat terbaik.

Seberapa sering temanteman menerima nasehat yang dialamatkan segera setelah temanteman dianggap melakukan kesalahan? Jika kita lebih sering membuat perkalian nol terhadap nasehat demi kebaikan yang muncul dengan landasan perhatian bukan kritikan tak solutif, artinya kita sedang mempersiapkan diri untuk mengurangi tingkat kelayakan kita untuk disayangi oleh orangorang di sekeliling kita. Kenapa? Ya, sebagaimana yang saya tulis di komen, bahwa nasehat itu muncul karena oranglain ingin melihat kita selamat dunia akhirat. Disayangi para penghuni bumi. Keren dalam bersikap. Maka, mari diterima nasehat untuk kebaikan tersebut. Kalau belum sanggup menjalani pesan dalam nasehat itu, pergunakan waktu yang Allah sediakan untuk terus menggali ilmu, terus belajar tak kenal lelah.

Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran adalah perintah Allah. Dan melihat orang yang kita sayang semakin disayangi Allah adalah sebuah hal menggembirakan luar biasa. Maka, jika saya sering diingatkan agar menjadi semakin baik dan sabar, bolehkah saya berkata *paling tidak, merasa :D* bahwa I amLovable? Aiih, kalo narsis begitu tuh ngga anggun, din :P *ngingetin diri sendiri* :lol:

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s